Free Daisy Dances Cursors at www.totallyfreecursors.com
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Tahu Gejrot Keliling di Bandung




Tukang tahu keliling sedang meracik Tahu gejrot
Menikmati tahu gejrot delivery siapa bilang nggak mungkin?
Mungkin aja kalo kita coba di Bandung. Sebenernya sih aku gak pake praktek delivery sih… kebetulan aja tuh tukang Tahu Gejrot lewat depan rumah terus dipanggil hahaha…
Delivery ini bukannya asal nebak. Tapi hasil interview dengan penjual yang bersangkutan (ngobrol aja bilang interview hahaha…). Nha.. si Tukang tahu ini nampaknya yakin bener sama barang jualannya. Dia menanyakan dengan terperinci seperti apa kita mau menikmati si tahu. Misal :
Pake bawang apa nggak?
Cabenya pedes, sedeng apa nggak?
Pake Gula?

Tahu gejrot keliling - Bandung Sajian Tahu Gejrot
Menjelaskan kalo tahu gejrot ini bahan Tahu-nya yang punya bolong/kopong isi. Kalo ada isi-nya itu namanya tahu Sumedang. Dia juga bilang kalo tahu-nya ini asli Cirebon, bukan bikinan lokal (lho.. mahal donk kekekek…). What ever lah… Yang penting dicoba dulu kakakakaka….
Tinggal telpon:
Tahu Gejrot khas Cirebon
HP : 081312229227
Hubungi : Miko

Tahu gejrot keliling di Bandung Bisa Pesan, nanti diantar hehehe...
Ya begitulah, setelah coba eee..enak juga. Kondisinya gak lagi laper loooh.. jadi diharapkan hasil liputannya gak pake distorsi kelaparan hahaha… Dia bilang, kalo mau pesen juga bisa. Tuh tinggal catat HP dia… Sampeyan juga bisa nelpon kalo mau pesen, tapi kayaknya cuman di Kota Bandung ajah.. jangan suruh ke Jakarta… kesian mikulnya kecuali sampeyan mau bayarin ongkosnya sekalian.

sumber : http://www.kulinerenak.com/?p=1108

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asal Usul Mesjid Agung Bandung


TINJAUAN ARSITEKTUR MASJID AGUNG BANDUNG DARI MASA KE MASA


Suara adzan menyusup di sela-sela keramaian pasar dan pertokoan di pusat kota Bandung. Suara yang tak lain berasal dari menara Masjid Agung Bandung itu sekan-akan hendak menyela segala kesibukan dan menyadarkan setiap telinga di setiap sudut pusat perbelanjaan di kota bunga tersebut akan salah satu kewajiban setiap muslim untuk menegakkan shalat.

Suara itu juga sekaligus mengingatkan khalayak akan eksistensi sebuah `Masjid Agung` di tengah-tengah keramaian kawasan ini. Benar, masjid ini memang memerlukan berbagai bahasa ungkapan (termasuk bahasa arsitektur) sehingga eksistensinya memang dirasakan di kawasan pusat kota ini.

Padahal, keberadaan Masjid Agung Bandung dulunya bukan hanya dirasakan di kawasan pusat kota saja, tetapi hampir ke seluruh penduduk kota Bandung. Halamannya luas, atapnya menjulang tinggi ke langit (bale nyungcung) nampak jelas keberadaan sebuah bangunan `Masjid Agung`. Bahkan gaung kohkol (kentongan) dan bedugnya saja terdengar hingga ke Dago Simpang, Manteos (Jl. Siliwangi), Terpedo (Wastukencana), Kebon the (Rancabadak), Bronbeek (Sukajadi) dan Cibarengkok. Semua terletak jauh di wilayah Bandung Utara. Pendeknya, gaungnya hingga terdengar hingga seantero kota. Begitu menurut tulisan-tulisan Kuncen Bandung Alm. Haryoto Kunto.

Masjid menjadi salah satu saksi dan sekaligus obyek sejarah perkembangan pusat kota ini sejak hampir dua abad yang lalu. Masjid menjadi obyek sejarah karena ia juga telah mengalami berkali-kali perubahan dan perombakan baik sedikit maupun banyak. Siapa sangka, penampilannya yang tersembunyi seperti sekarang ini telah mengalami berkali-kali perombakan. Tercatat paling sedikit tujuh kali perombakan sejak pertama kali didirikan yakni di abad ke-19 tiga kali perombakan dan di abad ke-20 empat kali perombakan.

Tulisan ini hendak mencoba menjelaskan berbagai perubahan dan perombakan secara kronologis baik sedikit maupun banyak (total). Di sini tidak difokuskan pada ke tujuh kali perombakan tersebut, namun paling tidak secara deskriptif akan dipaparkan kronologi perubahan dan perkembangannya sekaligus dengan berbagai latar belakang yang mengiringinya. Sebenarnya paling tidak terdapat dua kali perombakan yang bersifat total yakni pada tahun 1955 saat akan dilangsungkannya Konferensi Asia Afrika di Bandung dan pada tahun 1973 melalui SK Gubernur Kepala DATI I Jabar. Selengkapnya akan dipaprkan dalam tulisan singkat ini.

Akhirnya penulis berharap tulisan ini dapat memberi masukan sekecil apapun bagi pihak-pihak yang berwenang untuk mengelola dan merencanakan masa depan Masjid Agung Bandung yang lebih baik, karena konon dalam waktu dekat masjid akan mengalami renovasi (besar-besaran?) kembali.

Bale Nyungcung
Dari beberapa sumber sejarah, Masjid Agung Bandung didirikan pada tahun 1810. Memang banyak pula yang menyebut tahun 1812, namun sampai saat ini dapat diketahui secara pasti siapa yang membangun atau yang menggagas pertama kali. Saat itu masjid masih berupa bangunan panggung tradisional sederhana yang terbuat dari bambu dan beratap rumbia. Pada saat itu, masjid diperkirakan memiliki bentuk atap yang masih sangat sederhana.

Namun pada sekitar bangunan masjid sederhana itu, ada yang menarik yakni terdapatnya kolam kolam besar nan luas sebagai tempat mengambil air wudlu. Ini menjadi salah satu tanda bahwa bangunan tersebut adalah tempat ibadah, karena masjid-masjid jaman dulu biasanya memiliki kolam besar sebagai tempat wudlu di depan atau di sampingnya.

Ketika kawasan alun-alun Bandung mengalami kebakaran besar pada tahun 1825, kolam tempat mengambil air wudlu ini sangat bermanfaat bagi warga untuk memadamkan api sehingga berhasil dipadamkan.


Gb 1. Masjid Agung Bandung untuk pertama kalinya terekam dalam sebuah litho pelukis Inggris W. Spreat yang dibuat pada tahun 1852. Tampak atap masjid ”bale nyungcung”. (Sumber: Haryoto Kunto)



Menurut catatan Dr. Andries de Wilde, “Sang Tuan Tanah Bandung Raya” (1930), masjid agung di alun-alun berhadap-hadapan dan berpapasan dengan Bale bandung. Masjid terletak di sebelah barat alun-alun Kota Bandung, sedangkan Bale bandung yang berfungsi sebagai tempat pertemuan dan menerima tamu penting terletak di sebelah timur alun-alun alun-alun (Kunto, 1996).

Dari sini bisa kita lihat posisinya yang cukup penting dalam pusat kota pada waktu itu. Keberadaan masjid memang erat kaitannya dengan pembuatan alun-alun Kota Bandung, yakni sebagai salah satu pelengkap tata ruang pusat pemerintahan di Jaman pemerintahan kolonial Belanda.

Pada tahun 1826, bangunan masjid agung secara berangsur-angsur diganti dari bahan bilik dan bamboo menjadi bangunan berkonstruksi kayu. Di susul pada tahun 1850, bangnan-bangunan di sekitar alun-alun dan Groote postweg (sekarang jalan Asia-Afrika) direnovasi dan ditingkatkan kualitas bahan bangunannya. Bersamaan dengan itu, sebagai arsitek Bupati R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1847), merenovasi bangunan masjid agung dan pendopo kabupaten. Perombakan pada masjid agung berupa penggantian material atap dengan genting dan dinding dengan tembok batu-bata.

Inilah penampilan bentuk dan ekspresi Masjid Agung Bandung pada tahun 1850-an yang untuk pertama kalinya terekam dalam sebuah gambar, yakni litho pelukis Inggris W. Spreat yang dibuat pada tahun 1852 (gb.1).

Di sini terlihat bahwa masjid agung beratap tumpang tiga, memiliki halaman luas, dikelilingi pohon bambu dan kelapa serta di depannya terdapat gerbang yang diapit dua pohon beringin. Dari lukisan itu dapat juga kita lihat bahwa masjid agung merupakan bangunan tunggal, berskala besar/monumental. dengan semacam pendopo di depannya. Secara umum, atap tumpang yang tinggi dan besar serta deretan kolom di sekeliling masjid memberi ciri penting yang dapat kita tangkap pada penampilan dan ekpresi bangunan masjid pada saat itu.

Khusus pada atap, di sini sudah memperlihatkan bentuk atap tumpang tiga yang tinggi seperti “Bale Nyungcung” yang makin terkenal di kemudian hari. Ekspresinya ditunjukkan dengan atap tinggi menjulang ke atas namun pada bagian ujung bawah setiap lapisan atap tumpukan berbelok ke arah mendatar/horizontal dengan cepat.

Bentuk dan ekspresi atap seperti itu, tampak makin terlihat pada tahun 1875 seperti yang ditunjukkan pada foto lama di tahun yang sama (lihat gb. 2). Selain lapisan atap tumpukan yang sudah `nyungcung`, pada bagian ujung bawah lapisan atap pertama juga makin jelas menunjukkan belokan atap ke arah lebih mendatar.


Gb. 2. Masjid Agung Bandung pada foto tahun 1875. Tampak jelas deretan kolom-kolom ”doric” Yunani. (Sumber: KITLV Leiden)



Selain atap, di sini juga memperlihatkan adanya beberapa perubahan lainnya seperti: adanya semacam tembok/pagar yang mengelilingi pendopo/serambi luar masjid setinggi satu hingga satu setengah meter. Ini boleh jadi bukan sekadar tembok/pagar, tetapi juga berfungsi sebagai tempat duduk-duduk dari pondasi yang ditinggikan yang sekaligus mampu menahan kolom-kolom/tiang-tiang. Dugaan ini bisa dilihat pada gambar, di mana kolom-kolom/tiang-tiang terlihat menunjukkan ukuran dan proporsi yang pendek dan bagian bawahnya diperbesar yang ditumpu pada `tembok` tersebut.

Memasuki pada abad ke-20, tepatnya pada tahun 1900 Masjid Agung Bandung mulai dikenal menjadi tempat ibadah yang representatif buat sebuah ibukota Priangan (Kunto, 1996). Masjid dilengkapi dengan cirri masjid tradisional tradisional yang sangat kental. Antara lain: denah empat persegi panjang, mihrab, pawestren, bedug dan kentongan, bangunan menghadap ke timur tepat, ada makam, benteng, dan tidak bermenara (Graaf, 1947).

Mendekati tahun 1930-an, masjid agung semakin terkenal dan sangat menonjol dalam fungsi, aktifitas, dan kegiatan-kegiatannya. Ini dibuktikan dengan ramai dan makmurnya masjid oleh para penduduk kota Bandung. Bahakn konon masjid agung pada saat itu mengalami semacam `zaman keemasan` sebagai pusat ibadan dan social penduduk kota (Kunto, 1996). Masjid dipakai orang untuk berakad nikah, menjadi tempat merayakan Mauludan, Rajaban, Shalat Ied dan belajar mengaji, serta menjadi baitul mal yang menerima zakat fitrah dan mengurus kesejahteraan umat.

Secara fisik, pada tahun 1930 inilah Masjid Agung Bandung mulai ditambahi dengan bangunan pendopo yang di sebelah ujung kanan dan kirinya dibuat menara pendek dan kembar. Sepasang menara kembar tersebut semakin memperkuat kesan simetri bangunan masjid.

Atap bangunannya pun berubah ekspresinya semakin `nyungcung` yang ditunjukkan dengan atap tinggi menjulang ke atas dengan sudut kemiringan semakin curam, dan begitu sebaliknya pada bagian ujung bawah setiap lapisan tumpukan berbelok ke arah mendatar/horizontal . Sepasang menara kembar di kiri dan kana bangunan tadi pun diberi pula atap yang sama bentuk dan ekpresinya `nyungcung` sehingga tampil serasi dan menarik (gb. 3).


Gb. 3. Masjid Agung Bandung pada foto tahun 1935. Terjadi perubahan pada atap yang semakin menjulang dan adanya penambahan menara kembar di depan masjid. (Sumber: Haryoto Kunto)



Dari segi bentuk dan ekspresi bangunan, mungkin pada penampilan bangunan pada saat itulah yang memperlihatkan bentuk paling anggun dan menarik dibandingkan sebelumnya. Lebih dari itu, inilah barangkali perkembangan bentuk terakhir dari masjid Agung Bandung ketika masih beratap `Bale Nyungcung`, karena pada perkembangan berikutnya bentuk atap seperti ini sudah tidak ditemui lagi.

Sementara itu, penggunaan tiang-tiang luar masjid juga semakin tampak jelas yang ditata mengikuti irama tertentu. Penggunaan tiang-tiang itu sedikit banyak mengindikasikan pengaruh idiom India `Gupta`. Tiang-tiang ini juga secara jelas menumpu pada `tembok/pagar` seperti telah dijelaskan di atas.

Pada masa ini pula bangunan masjid agung dan bahkan hampir seluruh bangunan sekeliling alun-alun diberi pagar tembok berlubang-lubang berornamen sisik ikan hasil rancangan arsitek Belanda terkenal Henry Maclaine Pont. Motif sisik ikan ini kemudian untuk beberapa saat menjadi ragam hias khas pagar-pagar di wilayah Priangan sehingga dapat dijumpai di mana-mana termasuk hingga Cianjur dan Garut.

Rombak Total PertamaSoekarno setelah mendapat gelar Civiel Ingenieur (Ir.) dari Technische Hogheschool (THS atau ITB sekarang) di tahun 1925, pernah memiliki obsesi untuk membangun Masjid Agung Bandung yang megah bersama Ir. Rosseno (rekannya dalam mendirikan biro arsitek) yang konon akan memakan biaya satu setengah juta gulden.

Pengumpulan dananya direncanakan dengan cara menjual perangko dari seri setalen (25 sen), seketip (50 sen), dan serupiah (100 sen). Namun program tersebut gagal karena dijegal pemerintah Belanda dengan aturan pelarangan pengumpulan fonds (dana). Bahkan Asisten Wedana yang telah menyetujui program tersebut juga ditekan pemerinta kolonial Belanda.

Awal tahun 1954, Gubernur Jawa Barat mengadakan rapat Panitia Perbaikan Masjid Agung Bandung dalam rangka Konferensi Asia Afrika di Gedung pakuan. Presiden Soekarno sempat memaparkan gagasannya pada kesempatan itu. Bahkan pada pertemuan itu pula diperlihatkan pada hadirin gambar bestek Masjid Agung Bandung garapan Soekarno.

Mengingat terbatasnya anggaran biaya Negara dan waktu pembangunan yang amat mendesak, maka hanya sedikit saja gagasan Soekarno yang dapat terlaksana. Itupun hanya menyangkut gubahan massa yang terdiri dari satu bangunan induk dengan kubah “bawang” yang dilengkapi dengan menara tunggal. Agaknya kehadiran kubah bawang di atas Masjid Agung Bandung pada periode 1955-1970, mungkin sekali atas usulan Soekarno (Kunto, 1996).

Pada tahun 1955 ini, penampilan masjid jelas mengalami perubahan yang luar biasa disbanding dengan perubahan-perubahan sebelumnya ini. Tampak depan juga dirubah total. Kedua menara kecil di kanan dan di kiri masjid dibongkar. Serambi diperluas ke depan yang menyebabkan halaman menjadi lebih sempit, bahkan hampir seperti tidak lagi memiliki halaman depan! Ruang panjang kiri dan kanan (pawestren) dijadikan satu bangunan induk, sehingga bangunan masjid menjadi sebuah massa tunggal. Bangunan baru ini dilengkapi menara berpuncak kubah bawang di sebelah selatan masjid. Perubahan yang paling spektakuler adalah bentuk atap bangunan induk yang sudah lebih dari seabad berbentuk `Bale Nyungcung` diganti dengan kubah segi empat bergaya Timur-tengah (gb. 4).

Gb 4. Foto Masjid Agung Bandung pada tahun 1955, sesaat sebelum diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Di sini terjadi perubahan besar-besaran, dari atap bale nyungcung ke atap kubah. (Sumber: Haryoto Kunto)


Perubahan atap dari `bale Nyungcung` ke atap kubah segi empat seperti ini juga semakin memperkuat legitimasi penggunaan bentuk kubah bergaya Timur-tengah itu di pulau Jawa sebagai simbol sebuah masjid yang nantinya semakin kuat pada masa-masa mendatang. Karena pada sekitar tahun itu pula beberapa masjid di pulau Jawa dibangun juga dengan atap kubah seperti Masjid Syuhada (1952) di Yogyakarta dan Masjid Al-Azhar (1956) di Kebayoran Baru, Jakarta.

Masjid Agung Bandung dalam penampilan seperti itulah saat dilangsungkannya Konferensi Asia Afrika di Kota Bandung. Masjid digunakan sebagai tempat shalat para tamu-tamu dari luar negeri, sejak saat itu Masjid Agung bandung mulai dikenal oleh dunia Islam meskipun bentuknya sudah jauh meninggalkan aslinya yang beratap `Bale Nyungcung`


Rombak Total Kedua

Pada perkembangannya atap kubah hasil perombakan tahun 1955 tersebut pernah rusak karena tertiup angin dan diperbaiki pada tahun 1965. Kemudian dipernaiki kembali bersamaan dengan perbaikan beberapa bagian masjid serta penambahan ruangan untuk kegiatan pendidikan (madrasah dan TK) dan poliklinik pada tahun 1967/1968. Akhirnya kubah bawang yang sudah diperbaiki itu pun akhirnya diganti dan sekaligus diubah dengan yang bukan kubah bawang lagi pada tahun 1970-1973. Artinya Atap kubah bawang itu hanya bertahan selama kurang lebih 15 tahun.

Pada tahun 1973 ini dilakukan perombakan total kembali berdasarkan SK Gubernur Kepala DATI I Jabar tahun 1973. Bangunan yang baru memiliki wajah dan bentuk yang sama sekali berbeda dengan bentuk masa sebelumnya. Hasil renovasi ini diresmikan pada tahun 1974 (gb. 5).

Gb 5. Masjid Agung Bandung pada penampilan di tahun 1974. Terjadi renovasi lagi secara besar-besaran. (Sumber: Haryoto Kunto)



Masjid diperluas lantainya (lagi), bahkan mulai dibangun bertingkat. Dibangun pula lantai basemen untuk tempat wudlu, sedangkan lantai dasar dipakai untuk ruang shalat utama dan kantor DKM. Sementara lantai di bagian atas difungsikan sebagai mezanin untuk tempat shalat yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Serambi luar ini dihubungkan dengan jembatan beton ke arah alun-alun Bandung yang dapat kita lihat pada tampak muka masjid.

Menara yang lama dibongkar diganti dengan yang baru yang lebih tinggi di halaman depan sebelah kiri. Menara yang baru ini diberi ornamen shading dari logam yang konon sedang tren pada saat itu. Perubahan drastis terjadi kembali pada atap yakni atap kubah langsung diganti dengan atap yang merujuk kembali atap tumpang tetapi berbeda tampilan dan ekspresinya, katanya model joglo, sebutan sebagian orang.

Bangunan yang ada sekarang ini sebagian besar adalah hasil perombakan total pada tahun 1973 tersebut. Sayang, jembatan beton tersebut tampak kurang berfungsi sebagaimana mestinya sebuah jembatan untuk orang. Jembatan ini hampir selalu ditutup pagar, supaya orang tidak lewat/masuk dari arah alun-alun. Barangkali jembatan ini lebih tepat untuk menghubungkan massa bangunan dengan keberadaan alun-alun di sebelah timur bangunan dari pada sebagai jembatan penyeberangan atau menuju masjid. Artinya ia lebih tepat jika dibaca sebagai komposisi arsitektural katimbang diharapkan manfaatnya.

Pada akhir tahun 1980, penampilan masjid dirubah dengan selain diberikan finishing bahan dan detail-detail di dalam bangunan, juga ditambah fasade dinding pagar dan gerbang yang dilengkapi dengan pintu-pintu besi (gb. 6). Pagar dan gerbang ini cukup tinggi sehingga berkesan monumental. Elemen ini sangat tebal (tiga lapis?) sehingga juga berkesan masif seperti laiknya benteng yang tak ingin ditembus kecuali melalui pintu-pintu besi yang juga berskala monumental tersebut.

Gb. 6. Masjid Agung Bandung pada foto tahun 2001. (Foto: Indra Yudha)


Kenyataannya elemen pagar dan gerbang ini menjadi sangat mendominasi penampilan Masjid Agung Bandung pada saat ini. Dari jarak dekat, fasade atau tampak muka bangunan masjid tergantikan semuanya oleh tampak dinding pagar dan gerbang tersebut. Bahkan bangunan masjidnya sendiri nyaris tak terlihat, tertutup oleh elemen pagar dan gerbang tersebut, apalagi jika kita melihatnya dari jarak dekat seperti ini. Elemen ini sebenarnya cukup unik dan menarik namun juga berakibat penampilan masjid menjadi terlalu tertutup dan kurang mengundang bagi khalayak yang melintas di depannya.

Penambahan lainnya yang tak kalah menarik adalah adanya rangka besi berbentuk kubah pada puncak menara masjid. Boleh jadi karena dianggap tidak mudah untuk mengenali bahwa bangunan tersebut adalah masjid bagi orang kebanyakan karena tertutup pagar dan gerbang, maka penambahan kubah pada puncak menara tersebut dianggap dapat memberi tanda/simbol yang mempermudah pengidentifikasian oleh masyarakat kebanyakan dari mana-mana. Lebih unik lagi, hampir setiap rangka besi kubah diberi rangkaian lampu-lampu, sehingga pada malam hari nyala terang lampu yang membentuk gubahan bentuk kubah itu dapat dengan mudah dikenali oleh khalayak umum sebagai bangunan masjid dengan baik.

Sumber : http://bambangsb.blogspot.com/2005/11/tinjauan-arsitektur-masjid-agung.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sabuga Dan Cibaduyut


SABUGA DAN CIBADUYUT

4.1 Sabuga

         Sabuga Sasana Budaya Ganesha) merupakan gedung yang menyatu dengan komplek fasilitas olahraga yang dimiliki oleh Institut Teknologi Bandung(ITB). Fasilitas tersebut pada awalnya didirikan untuk mengaktifkan mahasiswaITB dalam rangka memenuhi kurikulum semester tertentu, yang mengharuskan para mahasiswa untuk mengambil mata kuliah olah raga. Karena lokasinya yang strategis, berseberangan dengan kampus ITB dan dapat dijangkau darijalansiliwangi, membuat lokasi ini dapat di pakai untuk acara-acara hiburan, dan resepsi, karena lokasi ini memiliki aula yang luas dan memadai untuk menampung orang banyak. Di dalam komplek Sabuga terdapat juga lapangantenis, kolamrenanglapangan basket, dan lapangan voli.


          4.2 Sumber  Belajar dan film 3 Dimensi

            Pada tanggal 16 Oktober  2011 di sekolah saya mengadakan acara study tour ke Bandung tepatnya ke Museum ITB ( SABUGA ).kami berangkat dengan menggunakan Bis Pariwisata.
Kami di perjalanan menuju Museum ITB ( SABUGA ) melihat pemandangan yang sangat indah dan udara disana sangat sejuk. Saya didalam bis hanya mendengarkan musik saja dan menikmati makanan yang sudah saya bawa.
Kami sampai di Museum ITB ( SABUGA ). Kami disana dapat melihat berbagai macam penemuan yang di buat oleh para Mahasiswa/i di ITB seperti, Alat Tegangan Listrik, Cermin Cembung dan Cekung, Benda-benda yang mengandung magnet, Benda pengukur kekentalan air, dan kami disana diajak menonton film 3 Dimensi. Disana juga sudah ada para pengujung yang ingin mengujungi Museum ITB ( SABUGA).
Setelah kami semua selesai menonton film, kami langsung istirahat makan siang dan sholat dzuhur. Kami tidak cukup lama berada diMuseum ITB ( SABUGA ) kira-kira hanya 3 jam saja, karena kami harus meneruskan perjalanan ke Cibaduyut

4.3 Cibaduyut dan Barang Dagangannya
            Sepatu, tas dan dompet merupakan salah satu asesoris yang selalu digunakan dan dibawa baik bagi pria maupun wanita. Bandung merupakan salah satu sentral pembuatan asesoris tersebut. Tepatnya berada di Cibaduyut BandungCibaduyut pun dikenal sebagai deretan toko terpanjang di Asia. Hasil produk sepatu cibayudut tidak kalah dengan merek luar negeri. Buktinya dengan banyaknya turis domestik yang datang ke sini.

Cibaduyut Bandung berada di daerah selatan Bandung kira kira dari pusat kota sekitar 30 menit. Kawasan ini awalnya terkenal dengan sentral sepatu kulit.

Untuk menuju ke Cibaduyut tidak sulit. Di tandai dengan patung sepatu yang besar di depan perempatan sebelum memasuki jalan Cibaduyut Bandung. Dengan adanya patung yang Sepatu memudahkan untuk para pengunjung untuk bisa sampai ke cibaduyut bandung, karena patung sepatu merupakan lambang atau ciri khas dari jalan cibaduyut dan patung sepatu satu-satunya yang ada di kota Bandung. Pantung sepatu cibaduyut merupakan akses pintu masuk menuju dari jalan Cibaduyut Bandung.

Sepanjang Jalan Cibaduyut Bandung banyak berdiri toko toko yang menjual dan menerima pesanan sepatu. Semua ukuran sepatu dapat dibuatkan di sini. Daerah ini terkenal karena harga yang mereka tawarkan cukup murah, dan kwalitas yang cukup bagus.

Kita bisa melihat toko-toko yang berjejer memajang dagangan yang didominasi oleh tas dan sepatu. Kalau kita masuk ke dalamnya, kita dapat menemukan lebih banyak lagi. Ada pakaian termasuk jaket kulit, tas kulit, tas gendong, dompet, ikat pinggang, boneka, sandal, bahan kulit untuk mebuat sepatu atau sendal dan lain-lain.


Keistimewaan dari cibaduyut adalah bagi anda yang ingin membeli sepatu dengan model yang anda inginkan anda bisa melakukan pemesanan. Harganya pun bervariasi, mulai dari beberapa puluh ribu saja sampai dengan ratusan ribu rupiah. Harganya pun bisa di tawar. Dengan kualitas yang bagus juga. Mangkanya deangan kualitas yang terjamin prodak dari cibaduyut sangat terkenal hingga ke Asia.
Selain sepatu, dompet dan tas banyak juga di sini di jual makanan khas Bandung sebagai oleh oleh bandung. Jika datang ke cibaduyut Bandung anda tak hanya belanja sepatu atau makanan saja, namun dompet pun disini bisa dijadikan oleh oleh Bandung, karena harga, bentuk dan kwalitas yang bagus.

Tidak jauh dari jalan cibaduyut bandung terdapat terminal bus leuwih panjang, yang bisa memudahkan para pengunjung yang menggunakan alat tranportasi untuk mengunjungi cibaduyut bandung. Untuk anda yang menggunakan kendaraan pribadi dari luar bandung anda bisa keluar dar Tol Kopo atau tol Moch. Toha, karna kedua Tol ini akses keluar dari tol yang sangat dekat. Berbagai oleh-oleh ciri khas kota bandung bisa anda dapatkan disini, seperti penyeum, dodol, opak, dan lain-lain.

Jika Cibaduyut terkenal akan sentral sepatu dan tas ada wilayah lain yang juga terkenal dengan produk Jeans, yaitu 
Cihampelas Bandung. Jangan lupa jika anda berlibur ke Bandung mintalah Cibaduyut Bandung dan Cihampelas Bandung masuk dalam Bandung tour package anda. Maka anda akan menemukan sensasi lain dari Kota Bandung.

sumber : http://sidonmadekarak.wordpress.com/2012/01/13/studi-wisata-atau-studi-banding-di-bandung/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Museum Geologi


Museum Geologi Bandung

Museum Geologi didirikan pada tanggal 16 Mei 1928. Museum ini telah direnovasi dengan dana bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Setelah mengalami renovasi, Museum Geologi dibuka kembali dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pada tanggal 23 Agustus 2000.
 Sebagai salah satu monumen bersejarah, museum berada di bawah perlindungan pemerintah dan merupakan peninggalan nasional. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi-materi geologi yang berlimpah, seperti fosil, batuan, mineral. Kesemuanya itu dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.
Masa Penjajahan Belanda Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri.
Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Melalui hal ini, diharapkan perkembangan industri di Negeri Belanda dapat ditunjang. Maka, pada tahun 1850, dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumberdaya mineral.
Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil, laporan dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.
Gedung Geologisch Laboratorium dirancang dengan gaya Art Deco oleh arsitek Ir. Menalda van Schouwenburg, dan dibangun selama 11 bulan dengan 300 pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 Gulden. Pembangunannya dimulai pada pertengahan tahun 1928 dan diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929.
Peresmian tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-4 (Fourth Pacific Science Congress) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 Mei 1929.(wisatanesia)


Sumber : http://www.dnaberita.com/berita-78811-museum-geologi-bandung.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rahasia Jalan Braga

 Rahasia Jalan Braga 



Agan-agan sekalian, apakah agan ada yang pernah jalan-jalan ke Jalan Braga yang ada di Bandung? Jalan Braga adalah nama sebuah jalan utama di kota Bandung, Indonesia. Nama jalan ini cukup dikenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sampai saat ini nama jalan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan obyek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java. 
Akan tetapi tahukah agan bahwa dibawah jalan Braga ada sebuah bunker eninggalan Belanda. Bunker tersebut sekarang telah dirubah menjadi Kasino yang lumayan besar dan sangat megah. Akan tetapi jalan masuk kedalam Kasino tersebut hampir tidak keliatan hanya ada sebuah pintu biasa yang dijaga oleh bodyguard. Untuk masukpun kita harus melakukan beberapa bahasa isyarat. Hanya sebagian orang yang tau tentang adanya Kasino ini. TS mengetahui tentang hal ini dari salahsatu teman TS yang pernah masuk ke Kasino Braga. Bahkan temen TS juga kaget ketika mengetahui bahwa ada Kasino terselubung di Braga. Satu-satunya petunjuk bahwa ada kasino di tempat tersebut adalah parkiran mobil mewah yang berjejer.

Sampai saat ini TS belum menyelidiki hal ini ke TKP karena bisa saja kalau ketahuan ane bisa dikarung gan. Untuk sementara TS hanya bisa memberikan informasi, belum bisa memberikan gambar tempat masuk kasino. Informasi ini sangat rahasia gan tolong jangan sampai di laporkan ke pihak berwenang karena ada kemungkinan TS bisa kena masalah dengan yang punya Kasino.

Sumber : http://www.inmystery.com/2010/04/rahasia-di-jalan-braga-bandung.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Gedung Sate


                           Sejarah Gedung Sate Di Bandung


Dahulu orang –orang menyebut gedung sate ini dengan HeBe. Mungkin maksudnya GB yang artinya Gouvernemens Bedrijven yaitu nama Gedung Sate pada zaman Hindia Belanda. Ya, Gedung Sate yang telah menjadi salah satu ikon atau landmarknya Kota Bandung bahkan Jawa Barat ternyata sarat dengan nilai sejarah perjuangan. Gedung itu seolah ingin menceriterakan kembali kebesaran dan kesombongan kolonialisme Belanda di Indonesia. Namun saya tidak bermaksud membuka kenangan pahit saat penjajahan, melainkan ingin mengajak untuk menikmati keindahan dan keanggunan arsitektur Ciptaan manusia.
Gedung ini dirancang oleh sebuah tim yang terdiri dari Ir. J. Gerber, Ir. Eh. De Roo, dan Ir. G. Hendriks, serta pihak Gemeente ( Walikota) Van Bandoeng dengan ketuanya Kol.Pur. VL. Slors. Proses pembangunan melibatkan 2000 orang pekerja diantaranya 150 orang pemahat batu dan pengukir kayu dari Konghu atau Kanton Cina. Sementara tukang bangunan yang dipekerjakan Sebelumnya telah berpengalaman membangun Gedong Sirap (ITB) dan Gedong Papak.Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johanna Catherina Coops, yaitu putri sulung B. Coops (Walikota Bandung) dan Petronella Roelefsen mewakili Gubernur Jendral di Batavia J.P Graaf Van Limburg Stirum. Proses pembangunan berlangsung selama 4 tahun yakni hingga selesai sampai September 1924.
Ir. J.Gerber,dkk berhasil memadukan gaya arsitektur Eropa dan Asia atau perpaduan Timur dan Barat. Untuk bangunannya Gerber mengambil gaya Rennaisance Italia, sedangkan untuk jendela ia mengambil gaya Moor Spanyol. Khusus untuk menara ia mengambil arsitektur Asia khusunya gaya pura Bali atau Pagoda Thailand. Di atas menara terdapat satu tusuk sate dengan 6 buah ornamen sate yang melambangkan 6 juta gulden biaya yang dihabiskan untuk pembangunan gedung ini.
Gedung Sate berdiri di atas lahan seluas 27.990,856 M2, sedangkan luas bangunan 10.877,734 M2 terdiri dari Basemen 3.039,859 M2, lantai I 4.062,553 M2, teras lantai I 212,976 M2, lantai II 3.023,796 M2, teras lantai II 212,976 M2, menara 121 M2 dan teras menara 205,169 M2. Kekuatan gedung ini terletak pada bahan yang dipakai serta teknis konstruksi konvensional profesional. Dinding bangunan terbuat dari batu berukuran 1 X 1 X 2 M, berasal dari kawasan perbukitan batu di Bandung Timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang.
Melihat keanggunannya maka tak heran jika para kalangan arsitek menyatakan bahwa Gedung Sate adalah bangunan monumental yang unik dengan gaya arsitektur Indo-Europa ( Indo Europeeschen architectuur stijl).
Gedung Sate yang dibangun menghadap langsung Gunung Tangkuban Perahu, semula dipersiapkan sebagai pusat kegiatan pemerintahan kolonial Belanda setelah Batavia dianggap tidak memenuhi syarat lagi sebagai pusat pemerintahan.
Sesaat setelah kemerdekaan terjadi peristiwa heroik, yakni tepatnya tanggal 3 Desember 1945 tujuh orang pemuda gugur dalam mempertahankan gedung ini dari serangan tentara Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda ini maka dibangunlah tugu peringatan yang diletakan di belakang gedung. Kemudian atas perintah Menteri PU maka pada tanggal 3 Desember 1970 tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan gedung.
sumber :http://farhan95.wordpress.com/2012/11/05/sejarah-gedung-sate-di-bandung/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Museum Mandala Wangsit Siliwangi adalah museum senjata yang berada di Bandung, Jawa Barat. Nama Siliwangi sendiri adalah seorang pendiri Kerajaan Pajajaran yang kekuasaanya tak terbatas, konon ia adalah seorang raja yang arif dan bijaksana serta berwibawa dalam menjalankan roda pemerintahaan, sedangkan kata Mandala Wangsit berasal dari sebutan sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau nasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalui benda-benda yang ditinggalkannya.
Nama jalan tempat museum ini berlokasi yakni Jl. Lembong diambil dari nama Letkol Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg.
Sejarah Museum
Bangunan yang memiliki gaya arsitektur late romanticism ini dibangun tahun 1910-1915 pada masa kolonial Belanda untuk tempat tinggal perwira Belanda. Setelah kemerdekaan, bangunan ini diambil alih oleh pasukan Siliwangi dan digunakan sebagai markas Divisi Siliwangi (Militaire Akademie Bandung) pada tahun 1949-1950. Bangunan ini berdiri diatas tanah seluas 4.176 m2 dengan luas bangunan 1.674 m2.
Pada tanggal 23 Mei 1966 bangunan ini diresmikan sebagai Museum Mandala Wangsit Siliwangi oleh Panglima Divisi Siliwangi ke-8 Kolonel Ibrahim Adjie.
Pada Tahun 1979, sebuah gedung baru bertingkat 2 dibangun lalu diresmikan pada 10 November 1980 oleh Pangdam Siliwangi ke-15 Mayjen Yoga Sugama dan Prasastinya yang ditandatangani oleh Presiden RI Soeharto.
Koleksi Museum 
Koleksi yang terdapat pada museum ini mencakup benda-benda yang digunakan oleh pasukan Kodam Siliwangi, mulai dari senjata primitif seperti tombak, panah, keris kujang, dan bom molotov, sampai dengan senjata modern seperti panser rel (buatan Indonesia), meriam, dan kendaraan lapis baja.

Sumber : http://www.bandungtourism.com/act_det_lis_d_i.php?Id=1

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Free Turkey Dance Cursors at www.totallyfreecursors.com